Senin, 09 Oktober 2017

SANTRI YANG MELUPAKAN TUJUANNYA



SANTRI YANG KEHILANGAN TUJUANNYA
           
            Keutamaan menuntut ilmu untuk agama islam hal yang diidamkan ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, terabadikan dalam mu’jizat terbesarmu Al Qur’an[1] dan terucap dari lisanmu[2] yang mulia, keistimewaan yang allah berikan kepada hambanya yang terpilih tak banyak dari kalangan yang bisa mencicipi manisnya ilmu yang hatinya disirami sejuknya ilmu agama islam[3], bukan embun yang akan mengembun dan kehilangan kesejukannya tapi ilmu yang sejuknya bisa menetes pada hati orang disekitar[4], itulah ilmu ilahi ilmu agama ini ilmu yang dicari para santri, besrsyukurlah kalian pemuda-pemuda terpilih yang mewarisi para nabi[5], syukurilah agar nikmat ini tetap bisa kau rasakan dengan cara menjaganya.
Setiap nikmat pasti ada yang menghasudnya[6], menunjukkan betapa berharganya kenikmatan tersebut dan banyak diingankan orang, termasuk setan yang akan terus mengganggu para santri dengan segala upaya agar mereka melupakan tujuannya dan berjalan dijalan fatamorgana. Saudaraku... jangan pernah kau berpaling atau menghianati ilmu, jangan kau jadikan ilmu ini tameng dari tipu muslihat setan yang mencoba menghalau tujuanmu, bangun... sadarlah, sudah sampai mana langkahmu?
Itulah setan dengan salah satu tipuannya yang bernama Istidroj, dia membuatmu seakan telah mencapai keberhasilan, memperlihatkan didepanmu jalan keberhasilan dan bakat yang sekan bisa membantu agama, tapi nyatanya semua itu adalah fatamorgana yang dibuatnya agar dirimu tidak lagi berada dalam tujuan (menuntut ilmu, taat pada peraturan dan guru)[7]. Istidroj juga kerap menipu orang, menjadikannya terlihat berhasil didunia ini, tapi tidak demikian dengan akhirat yang tidak ada kebohongan[8].
Khidmah tidak ada yang memungkirinya termasuk hal penting ketika menuntut ilmu tapi bukan berarti lebih penting dari pada menuntutmu ilmu, hingga kita melupakan tujuan utama sebagai seorang santri yaitu menuntut ilmu dan mengutamakan khidmah. Yang benar adalah kita menjadikan keduanya ibarat sayap, yang harus seimbang dan tidak akan bisa terbang kecuali keduanya ada dan seimbang[9].
Inilah realitanya, fitnah yang dihadapi banyak santri pada saat ini, sebuah tipu daya setan yang demikian rupa agar pemuda islam kelak tidak bisa menjadi pemimpin yang benar. Seolah memiliki andil dalam pesantren tapi mereka telah melanggar peraturan yang dibuat gurunya, guru yang telah membangun pesantren dengan peraturan lalu kita merasa bisa membangunnya dengan khidmah.
Sebagai sesama santri yang mengharapkan keberhasilan ayo kita saling mendukung dan mengingatkan[10], Ridho seorang guru adalah inti dari keberhasilan para santrinya, ridho dan doa beliaulah yang kita harapkan bukan sekedar usaha kita semata yang menjadikan berhasil, karena usaha kita bisa jadi istidroj yang telah tercampur dengan kebusukan setan, sucikanlah dengan doa para gurumu, dan jangan pernah sombong dihadapan oranglain terlebih jika dia gurumu[11].
Semoga kita dijauhkan dari sifat sombong dan istidroj fatamorgana yang menjadi penyesalan kita nantinya, dan semoga Allah subhaanahu wata’aala memberikan kita kekuatan untuk keluar dari itu semua.
امين يارب العالمين


[1] قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ – الزمر ١١
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ – المجادلة ١١
[2] من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة. رواه مسلم
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ. رواه بخاري
[3] مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
[4] غير نفسك غير الله ما حولك
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ – الرعد ١١
[5] إن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورِّثوا دينارًا ولا درهمًا، إنَّما ورَّثوا العلم، فمن أخذَه أخذ بحظٍّ وافر
[6] فإن كل ذي نعمة محسود, رواه الطبراني
[7] وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ – العمران ١٨٥
[8] الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ – يس ٦٥
[9] عن أبي بكر رضي الله عنه أنه قال ( إن الله تبارك وتعالى لا يقبل النافلة حتى تؤدى الفريضة
[10]الذاريات ٥٥ وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ –
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ – متفق عليه
[11] لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ - رواه مسلم، الترمذي، أبو داود، ابن ماجه، أحمد

Selasa, 22 Agustus 2017

Rahasia di Balik Rezeki

لو أن ابن آدم هرب من رزقه كما يهرب من الموت لأدركه رزقه كما يدركه الموت

“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya
sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.”
( HR. Ibnu Hibban )

" NGAJI TASAWWUF BAB REZEKI "

Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak.
Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit.

Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar.

Rezeki akan mendatangi,
bahkan akan mengejar,
hanya kepada orang yang pantas didatangi....

Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas di datangi, atau bahkan dikejar rezeki.
Inilah hakikat ikhtiar...

Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri.
Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla.

Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima, seluruhnya.

Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta,
Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan,
Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan, keamanan,
Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu,
Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih,
Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnya...

Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islam...

Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta,
Rezeki adalah seluruh rahmat Alloh SWT

Adapun
8 JENIS REZEKI DARI ALLOH SWT

1.REZEKI YANG TELAH DIJAMIN.

‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya."
(Surah Hud : 6).

2. REZEKI KARENA USAHA.

‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."
(Surah An-Najm : 39).

3. REZEKI KARENA BERSYUKUR.

‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
(Surah Ibrahim : 7).

4. REZEKI TAK TERDUGA.

‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(Surah At-Thalaq : 2-3).

5. REZEKI KARENA ISTIGHFAR.

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).

6. REZEKI KARENA MENIKAH.

‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya."
(Surah An-Nur : 32).

7. REZKI  KARENA ANAK.

‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Surah Al-Israa' : 31).

8. REZEKI KARENA SEDEKAH

‎مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
(Surah Al-Baqarah : 245).

Minggu, 09 April 2017

Penjelasan Tentang Hadits شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي

السلام عليكم ورحمة الله...
Ustadz saya mau bertanya tentang sebuah hadits yang membuat saya dan teman-teman bingung, ada sebuah riwayat bahwa Rasulullah SAW bersabda: شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي
syafaatku juga ada untuk ummatku yang melakukan dosa besar”, pertama apakah hadits ini shohih, jika ia hadist ini bisa jadi alasan orang-orang lalai pada agama dengan beranggapan bahwa Syafaat Rasulullah tetap diberikan kepada ummatnya walau melakukan dosa besar?!.
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Hadits yang anda sebutkan memanglah hadits shohih yang diriwayatkan Imam Abu Dawud, Turmudzi bahkan juga ada di kitab Bukhori dan Muslim. Akan tetapi yang dimaksud bahwa Syafaat Rasulullah juga ada bagi ummatnya yang berdosa bahkan yang memiliki dosa besar jangan difahami untuk meringankan berbuat dosa, melaikan maksud beliau adalah memberi motivasi untuk orang yang mau BERTAUBAT, bahwa syafaat Rasulullah akan tetap bisa mereka dapatkan, tentunya jika mereka bertaubat dan tidak mengulangi dosa yang mereka lakukan.
Dan perlu kita Allah SWT selain maha pemaaf, juga memiliki Adzab (siksaan) yang sangat pedih bagi hambanya yang bermaksiat, maka bagi orang muslim harus lebih memerhatikan ancaman dan teguran Allah SWT yang berada di Al-Qur’an, kita harus perhatian pada ayat-ayat yang telah Allah turunkan sebagai nasihat dan petunjuk bagi kita.
Allah SWT berfirman:
فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون (الأعراف: ٩٩)
Artinya: “tidak ada orang yang merasa aman dari ancaman Allah (tidak takut berbuat salah pada Allah, merasa aman dari siksanya) kecuali orang-orang yang menyesal (karena meremahkannya)”.
Dan kita tahu para ulama’ mengatakan Iman akan bertambah dengan bertambahnya amal sholeh, dan berkurang (lemah) dengan melakukan dosa, dan menjadikan hati ini dikuasai (hawa nafsu), sebagaimana Allah SWT berfirman: كلا بل ران على قلوبهم بما كانوا يكسبون (المطففين:14).
Artinya: ”hati mereka akan (benar-benar) dikuasai atas apa yang mereka lakukan”.
Dan jika maksiat tersebut terus dilakukan, bisa jadi perbuatannya menghilankan iman pada dirinya lalu meninggal dalam keadaan kufur (wal’iyadzu billah), dan syafaat Rasulullah pun tidak berguna baginya, dan menyebabkan dia kekal di neraka na’udzu billah min dzaalik.

            Maka yang pantas dari seorang umat muslim adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan ridho Allah SWT dan rasulnya dengab melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi seluruh larangannya, bukan memikirkan tentang surga dan neraka semata, lebih berharap banyak atas ampunan sedangkan dirinya sering melakukan dosa.