SANTRI YANG
KEHILANGAN TUJUANNYA
Keutamaan menuntut ilmu
untuk agama islam hal yang diidamkan ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam, terabadikan dalam mu’jizat terbesarmu Al Qur’an[1]
dan terucap dari lisanmu[2]
yang mulia, keistimewaan yang allah berikan kepada hambanya yang terpilih tak
banyak dari kalangan yang bisa mencicipi manisnya ilmu yang hatinya disirami
sejuknya ilmu agama islam[3],
bukan embun yang akan mengembun dan kehilangan kesejukannya tapi ilmu yang
sejuknya bisa menetes pada hati orang disekitar[4],
itulah ilmu ilahi ilmu agama ini ilmu yang dicari para santri,
besrsyukurlah kalian pemuda-pemuda terpilih yang mewarisi para nabi[5],
syukurilah agar nikmat ini tetap bisa kau rasakan dengan cara menjaganya.
Setiap nikmat pasti ada yang menghasudnya[6],
menunjukkan betapa berharganya kenikmatan tersebut dan banyak diingankan orang,
termasuk setan yang akan terus mengganggu para santri dengan segala upaya agar
mereka melupakan tujuannya dan berjalan dijalan fatamorgana. Saudaraku... jangan
pernah kau berpaling atau menghianati ilmu, jangan kau jadikan ilmu ini tameng
dari tipu muslihat setan yang mencoba menghalau tujuanmu, bangun... sadarlah,
sudah sampai mana langkahmu?
Itulah setan dengan salah satu tipuannya yang bernama Istidroj,
dia membuatmu seakan telah mencapai keberhasilan, memperlihatkan didepanmu
jalan keberhasilan dan bakat yang sekan bisa membantu agama, tapi nyatanya
semua itu adalah fatamorgana yang dibuatnya agar dirimu tidak lagi berada dalam
tujuan (menuntut ilmu, taat pada peraturan dan guru)[7].
Istidroj juga kerap menipu orang, menjadikannya terlihat berhasil
didunia ini, tapi tidak demikian dengan akhirat yang tidak ada kebohongan[8].
Khidmah tidak
ada yang memungkirinya termasuk hal penting ketika menuntut ilmu tapi bukan
berarti lebih penting dari pada menuntutmu ilmu, hingga kita melupakan tujuan
utama sebagai seorang santri yaitu menuntut ilmu dan mengutamakan khidmah.
Yang benar adalah kita menjadikan keduanya ibarat sayap, yang harus seimbang
dan tidak akan bisa terbang kecuali keduanya ada dan seimbang[9].
Inilah realitanya, fitnah yang dihadapi banyak santri
pada saat ini, sebuah tipu daya setan yang demikian rupa agar pemuda islam
kelak tidak bisa menjadi pemimpin yang benar. Seolah memiliki andil dalam
pesantren tapi mereka telah melanggar peraturan yang dibuat gurunya, guru yang
telah membangun pesantren dengan peraturan lalu kita merasa bisa membangunnya
dengan khidmah.
Sebagai sesama santri yang mengharapkan keberhasilan ayo
kita saling mendukung dan mengingatkan[10],
Ridho seorang guru adalah inti dari keberhasilan para santrinya, ridho dan doa
beliaulah yang kita harapkan bukan sekedar usaha kita semata yang menjadikan
berhasil, karena usaha kita bisa jadi istidroj yang telah tercampur
dengan kebusukan setan, sucikanlah dengan doa para gurumu, dan jangan pernah
sombong dihadapan oranglain terlebih jika dia gurumu[11].
Semoga kita dijauhkan dari sifat sombong dan istidroj fatamorgana
yang menjadi penyesalan kita nantinya, dan semoga Allah subhaanahu wata’aala
memberikan kita kekuatan untuk keluar dari itu semua.
امين يارب العالمين
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ – المجادلة ١١
[2]
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له
به طريقا إلى الجنة. رواه مسلم
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ. رواه بخاري
[3]
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ
بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا
نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
[4]
غير نفسك غير الله ما حولك
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا
بِأَنْفُسِهِمْ – الرعد ١١
[5]
إن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم
يورِّثوا دينارًا ولا درهمًا، إنَّما ورَّثوا العلم، فمن أخذَه أخذ بحظٍّ وافر
[6]
فإن كل ذي نعمة محسود, رواه الطبراني
[8]
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ
وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ –
يس ٦٥
[9]
عن أبي بكر رضي الله عنه أنه قال ( إن
الله تبارك وتعالى لا يقبل النافلة حتى تؤدى الفريضة
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ –
متفق عليه
[11]
لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي
قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ
أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ
جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ - رواه
مسلم، الترمذي، أبو داود، ابن ماجه، أحمد