Minggu, 23 Desember 2018

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Ibu



SELAMAT HARI IBU

            22 Desember dikenal dengan Hari Ibu, dimana orang-orang menganggap hari spesial dan moment untuk menyenangkan orang tua terutama IBU dengan berbagai cara.
Namun di Era Kontroversial ini hari ibu juga tidak lepas dari perbincangan dan pendapat dari banyak tokoh terutama dalam Islam. Itu semua tidak lain demi kepentingan Umat bersama yang semakin kebalakang ini mulai jauh dari ajaran agamanya Islam. Oleh karena itu tidak banyak ulama’ yang mulai mengantisipasi dari hal kecil, karena mereka percaya perubahan baik maupun buruk berawal dari hal kecil yang jika dibiarkan bisa menjadi kebiasaan dan menjadi hal besar yang berdampak pada Nilai Agama para Muslimin.
الحُكْمُ تَدُوْرُ مَعَ الْعِلَّة
Sebuah kaidah dalam ajaran islam yang maknanya: “Hukum berubah-berubah tergantung penyebabnya”. Sudah hal yang wajar hukum akan terus diperbarui bersamaan dengan adanya penyebab-penyebab baru bersamaan dengan berjalannya zaman. Salah satunya adalah Perayaan Hari Ibu yang tidak sedikit Ulama’ melarang kita untuk merayakannya, salah satunya adalah Ulama luar biasa dengan Ilmu yang tidak diragukan dan sosok yang sama-sama terutama di mata saya sangat memotivasi dan pantas diikuti yaitu; Ustad Abdul Somad, Lc. MA. Beliau sempat menyatakan bahwa merayakan Hari Ibu dilarang bagi kita dengan 2 alasan secara garis besarnya. Pertama; beliau mengambil pendapat berdasarkan sebuah Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (seseorang yang meniru kebiasan suatu kaum, maka dia termasuk dari golongannya). Dari hadits ini beliau hawatir jika kalangan islam merayakan Hari Ibu maka dia termasuk golongan orang yang merayakannya “Non Muslim”, Kedua; alasan beliau selanjutnya adalah bahwa kita merayakan hari ibu dan membahagian ornag tua kita bukan hanya pada hari tertentu, apalagi setahun Cuma sekali. Kita memiliki kewajiban membahagiakan kedua orang tua kita terutama Ibu bukan hanya tiap hari bahkan tiap waktu sebisa kita, semampu kita.
Bahkan Dr. Habib Segaf Baharun pernah berkata dalam salah satu cermahnya: “jangan sampai kita punya mobil tapi orang tua kita tidak punya, jangan sampai kita puny rumah sedangkan orang tua belum memilikinya, jangan sampai kita melaksanakan Ibadah Haji sedangkan orang tua sudah lama menginginkannya, karena hal tersebut sama seperti kedurhakaan kepada orang tua”.
Maka itu semua adalah pendapat yang pribadi saya sebagai langkah hati-hati yang harus kita ikuti bersama dan tidak diragukan lagi akan kapasitas beliau dibanding kita.
            Lalu yang selanjutnya akan saya tulis adalah pendapat saya sendiri yang sangat terbuka menerima kritikan sebagai tambahan wawasan, dan tentunya  tidak sama sekali niat menyaingi atau menyalahkan pendapat sebelumnya, karena di banding Beliau Ustad Abdul Somad saya ibarat menggarami lautan. Hanya saja karena banyak dari teman yang bertanya dan meminta pendapat, bagaimana kita yang sudah terlanjur melakukannya dan sanak family kami yang merayakannya dan kami tidak bisa menasehati dan melarangnya karena kelemahan dan sedikitnya Ilmu yang kami miliki, sedangkan jika itu murni dosa maka berdosalah keluarga kami.
            Maka saya menyampaikan kepada mereka pertama untuk tetap berhati-hati untuk jangan mengikuti kebiasaan Non Muslim dan jangan mencoba mendekatinya, kedua apa yang akan saya tulis hanya Khusus kepada Hari Ibu, tidak bisa dan bukan untuk lainnya semisal Hari Natal dan Valentine.
            Sekali lagi tulisan saya ini hanya Khusus pada Hari Ibu, maka hal itu baru dan tidak ada sebelumnya di Syari’at, dan hal baru biasanya lebih Famous dengan sebutan Bid’ah, sesuatu yang baru jika baik maka mendapat nilai baik tergantung niat yang melakukannya seperti Maulid, Tahlil yang tidak kita perpanjang pembahasannya karena sudah banyak yang mengkajinya, bisa anda temukan di Youtube.
            Dan masalah mengikuti Non Muslim yang dilarang jika berbau maksiat dan 100% mengikuti mereka. Karena Rasulullah SAW pernah suatu ketika bertemu orang non muslim yang sedang berpuasa, lalu beliau bertanya tentang puasa yang mereka lakukan, non muslim itu menjawab kita berpuasa karena nabi isa dan nabi lainnya diselamat dari berbagai cobaan pada hari ini, lalu Rasululah bersabda: kalau begitu kita lebih berhak untuk berpuasa untuk mereka.” Lalu Rasulullah memerintah para Sahabat untuk berpuasa pada hari itu (‘Asyuro) akan tetapi biar beda dengan mereka maka puasalah juga sehari sebelumnya atau setelahnya. Jadi beliau meniru hanya dalam memperingati hari dimana para Nabiyullah diselamatkan, tapi beliau juga tidak suka jika sama dengan non muslim, jadi beliau berbeda dengan cara menambah puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.
Jadi jika kita ingin merayakan Hari Ibu, kitaa rayakan dengan cara yang beda, dan jika bisa dengan yang lebih Islami, seperti memberi makan anak yatim dengan niat pahalanya untuk orang tua kita, mengadakan maulid, atau bisa saja memberi hadiah langsung kepada orang tua kita sesuatu yang mereka inginkan. Dan jangan lupa, bahagiakan mereka setiap hari bahkan setiap saat bukan hanya pada 22 Desember saja.
            Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah pernah berkata:
اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
“Lihat APA yang dia katakan (bermanfaat atau tidak) dan jangan lihat SIAPA yang mengatakannya”. Jika ada manfaat bagi Ummat Islam ambil-lah walau dari orang yang tidak baik, yang penting kita ambil manfaatnya dan bukan Kepercayaannya yang salah, Kebiasaannya yang buruk, Orangnya yang tidak baik, cukup hanya mengambil manfaatnya saja.

Selasa, 18 Desember 2018

Contoh Biografi Penulis

BIOGRAFI PENULIS

Hamid Nagib Al-Hamid, M.Pd. Lahir di Malang, Jawa Timur pada 29 April 1994 yang sampai saat ini aktfif mengajar di Pondok Pesantren Darullughoh Waddawah (DALWA) Bangil Pasuruan dan di Madrasah Aliyah Raudlatul Ulum Putri (MARUPI) Ganjaran Gondanglegi Malang. Anak pertama dari 12 bersaudara lulusan MI Raudlatul Ulum Ganjaran tahun 2005, yang lalu meneruskan jenjang pendidikan MTs dan MA jurusan Bahasa di Pondok Pesantren Darullughoh Waddawah (DALWA) lulus MTs tahun 2008 dan MA tahun 2011, kemudian melanjutkan kuliah Strata Satu (S-1) di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAI DALWA lulus tahun 2015. Lulus Magister Manajemen Pendidikan IAI DALWA tahun 2018, dan sekarang sedang menyelesaikan kuliah Strata Satu (S-1) di Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Institut Agama Islam Darullughoh Waddawah.
Karena sebuah keinginan yang besar untuk membanggakan orang tua dan guru, maka banyak upaya yang diusahakan, dimulai dari belajar, menulis dan mengikuti beberapa lomba di masa belajar saat MA dan Kuliah. Penulis sempat meraih juara 1 Lomba Debat Bahasa Arab antar MA-SMA tingkat Propinsi yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang tanggal 23-30 Oktober 2010, juara 1 Lomba Debat Fikih tingkat Propinsi antar Perguruan Tinggi yang diadakan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tanggal 27-28 November 2012, juara 1 Lomba Debat Bahasa Arab tingkat Nasional antar Perguruan Tinggi yang diadakan UNIDA Gontor tanggal 26-29 September 2014, juara 1 Lomba Debat Bahasa Arab tingkat Nasional antar Perguruan Tinggi yang diadakan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tanggal 8-11 Oktober 2014, juara 2 Lomba Debat Bahasa Arab Nasional antar Perguruan Tinggi yang diadakan UGM Yogyakarta tanggal 24-28 Oktober 2014.
Berangkat dari keinginan yang ditemani sedikit usaha, Alhamdulillah tulisan ini bisa selesai sekaligus menyempurnakan tulisan sebelumnya yang berjudul Keluargaku Surgaku yang isinya tentang materi dalam membina sebuah keluarga menjadi Harmonis nan Romantis. Penulis juga mengharap doa seluruh pembaca agar tulisan-tulisan lainnya bisa bermanfaat dan menjadi motivator untuk saudara-saudara kita yang ingin berkarya.
Menulislah karena yang kamu tulis tidak akan mati, dan ketika kamu mati orang-orang akan mengenalmu dari tulisanmu.

Senin, 09 Oktober 2017

SANTRI YANG MELUPAKAN TUJUANNYA



SANTRI YANG KEHILANGAN TUJUANNYA
           
            Keutamaan menuntut ilmu untuk agama islam hal yang diidamkan ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, terabadikan dalam mu’jizat terbesarmu Al Qur’an[1] dan terucap dari lisanmu[2] yang mulia, keistimewaan yang allah berikan kepada hambanya yang terpilih tak banyak dari kalangan yang bisa mencicipi manisnya ilmu yang hatinya disirami sejuknya ilmu agama islam[3], bukan embun yang akan mengembun dan kehilangan kesejukannya tapi ilmu yang sejuknya bisa menetes pada hati orang disekitar[4], itulah ilmu ilahi ilmu agama ini ilmu yang dicari para santri, besrsyukurlah kalian pemuda-pemuda terpilih yang mewarisi para nabi[5], syukurilah agar nikmat ini tetap bisa kau rasakan dengan cara menjaganya.
Setiap nikmat pasti ada yang menghasudnya[6], menunjukkan betapa berharganya kenikmatan tersebut dan banyak diingankan orang, termasuk setan yang akan terus mengganggu para santri dengan segala upaya agar mereka melupakan tujuannya dan berjalan dijalan fatamorgana. Saudaraku... jangan pernah kau berpaling atau menghianati ilmu, jangan kau jadikan ilmu ini tameng dari tipu muslihat setan yang mencoba menghalau tujuanmu, bangun... sadarlah, sudah sampai mana langkahmu?
Itulah setan dengan salah satu tipuannya yang bernama Istidroj, dia membuatmu seakan telah mencapai keberhasilan, memperlihatkan didepanmu jalan keberhasilan dan bakat yang sekan bisa membantu agama, tapi nyatanya semua itu adalah fatamorgana yang dibuatnya agar dirimu tidak lagi berada dalam tujuan (menuntut ilmu, taat pada peraturan dan guru)[7]. Istidroj juga kerap menipu orang, menjadikannya terlihat berhasil didunia ini, tapi tidak demikian dengan akhirat yang tidak ada kebohongan[8].
Khidmah tidak ada yang memungkirinya termasuk hal penting ketika menuntut ilmu tapi bukan berarti lebih penting dari pada menuntutmu ilmu, hingga kita melupakan tujuan utama sebagai seorang santri yaitu menuntut ilmu dan mengutamakan khidmah. Yang benar adalah kita menjadikan keduanya ibarat sayap, yang harus seimbang dan tidak akan bisa terbang kecuali keduanya ada dan seimbang[9].
Inilah realitanya, fitnah yang dihadapi banyak santri pada saat ini, sebuah tipu daya setan yang demikian rupa agar pemuda islam kelak tidak bisa menjadi pemimpin yang benar. Seolah memiliki andil dalam pesantren tapi mereka telah melanggar peraturan yang dibuat gurunya, guru yang telah membangun pesantren dengan peraturan lalu kita merasa bisa membangunnya dengan khidmah.
Sebagai sesama santri yang mengharapkan keberhasilan ayo kita saling mendukung dan mengingatkan[10], Ridho seorang guru adalah inti dari keberhasilan para santrinya, ridho dan doa beliaulah yang kita harapkan bukan sekedar usaha kita semata yang menjadikan berhasil, karena usaha kita bisa jadi istidroj yang telah tercampur dengan kebusukan setan, sucikanlah dengan doa para gurumu, dan jangan pernah sombong dihadapan oranglain terlebih jika dia gurumu[11].
Semoga kita dijauhkan dari sifat sombong dan istidroj fatamorgana yang menjadi penyesalan kita nantinya, dan semoga Allah subhaanahu wata’aala memberikan kita kekuatan untuk keluar dari itu semua.
امين يارب العالمين


[1] قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ – الزمر ١١
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ – المجادلة ١١
[2] من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة. رواه مسلم
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ. رواه بخاري
[3] مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
[4] غير نفسك غير الله ما حولك
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ – الرعد ١١
[5] إن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورِّثوا دينارًا ولا درهمًا، إنَّما ورَّثوا العلم، فمن أخذَه أخذ بحظٍّ وافر
[6] فإن كل ذي نعمة محسود, رواه الطبراني
[7] وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ – العمران ١٨٥
[8] الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ – يس ٦٥
[9] عن أبي بكر رضي الله عنه أنه قال ( إن الله تبارك وتعالى لا يقبل النافلة حتى تؤدى الفريضة
[10]الذاريات ٥٥ وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ –
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ – متفق عليه
[11] لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ - رواه مسلم، الترمذي، أبو داود، ابن ماجه، أحمد