Kamis, 24 Maret 2016

Nasehat Habib Taufiq Assegaf (ibu)

Sekapur sirih Habib Taufiq bin Abdul Qadir As-Segaf di hari terakhir ibunda tercinta beliau Al-Maghfurullah Hubabah Ruqayyah binti Habib Ja’far bin Syaikhon As-Segaf.
Jangan pernah sia-siakan kesempatan selagi orangtua anda masih hidup, kami sudah merasakan bagaimana kami ditinggal abah dan umi, sedikitpun kita tidak bisa membalas jasa mereka.
Suatu saat pernah ada seorang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “ya rasulullah aku menggendong ibuku ke ka’bah untuk Thowaf, Sa’i dan semuanya, apakah aku sudah bisa dikatakan cukup berbakti (sudah membalas jasa) kepada orangtuaku?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “apa yang telah kamu lakukan belum sebanding dengan 1 tarikan nafas ibumu saat melahirkan.
                Tidak ada yang pernah melebihi kasih sayang orangtua, siapa yang membersihkan ketika kita buang kotoran dulu, saat kita buang air kecil di malam hari mereka rela bangun mengantarkan dan membersihkan kita, disaat sakit mereka sabar merawat kita, sekarang jika kita sakit gigi pertama yang akan kita datangi adalah orangtua melapor kepadanya, tak punya kita mengadu keada orangtua, tapi kita tak pernah tahu mereka susah payah bahkan sampai berhutang, kita tidak tahu akan hal itu karen yang kita lihat mereka masih saja bisa tersenyum ketika melihat kita, walau sebenarnya di otak mereka banyak pikiran dan masalah.
                Tahukah anda pahala mencium Hajar Aswad tidak sebanding dengan anda mencium tangan kedua orangtua anda dengan Ta’dzim
Berapa banyak orang yang mengaku Da’i namun menyia-nyiakan orangtuanya...Naudzubillah
Meskipun anda Umroh dan Haji 1000x namun anda tidak berbakti kepada kedua orangtua, semua itu percuma.
                Beliau Al-Habib Taufiq menceritakan sedikit tentang ibundanya, beliau mengatakan terpaksa mengatakannya untuk saudara-saudara beliau, supaya beliau dan saudaranya bisa meniru pendidikan ibunda mereka dan mungkin dapat bermanfaat bagi kita semua:
-          Beliau mendidik langsung anak-anaknya Al-Qur’an mulai Alif sampai selesai, tanpa dititipkan di TPQ (maaf), kalau sekarang seorang anak dititipkan di TPQ atau memanggil seseorang kerumah agar dapat mengajari anaknya seakan tidak ada ittisar dan lepas tanggung jawab, dan intinya anak yang mengaji seperti itu biasanya menyebabkan anak tidak menghargai orangtua karena bukan orangtua yang mengajarkan namun orang lain.
-          Saya masih ingat ketika dulu ibunda kami  tidak pernah membiarkan anak-anaknya keluyuran diwaktu maghrib, dan mengharuskan kami berada dirumah sebelum maghrib, beliau berkata “Ayam itu kalau sudah sore pulang masa anak umi kalah sama ayam”.
-          Beliau selalu mendidik anaknya diwaktu antara maghrib dan isya’ dengan membaca rotib, yasin, tabarok mulai kecil sampai kita hafal.
-          Beliau sendiri tidak pernah meninggalkan bacaan Al-Qur’an bahkan sampai memakai kaca mata dan kaca pembesar sampai akhir wafat.
-          Saat saya dipuji seseorang beliau selalu mendudukkan saya dan marah ”Umi tidak senang kamu dipuji”, beliau mengajarkan kita selalu ikhlas, bahkan beliau pernah mengajak saya keliling, dan jika ada yang menjual foto-foto beliau dan Al-Habib Ja’far, beliau tidak suka, marah dan berdo’a “semoga  melarat yang menjual foto-foto beliau dan keluarganya”, makanya sekarang tidak ada yang berjualan foto Al-Habib Ja’far.
-          Beliau tidak pernah meninggalkan Al-Qur’an dan Dalilul Khairot.

Yang terakhir didiklah anak-anak anda agar menjadi anak yang shaleh jangan sampai anda meninggal mereka bangga mendapat warisan, selalu nasehati anak sebagaimana Nabi Ya’qub dan Nabi Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya “Bagaiman setelah aku mati, Tuhan siapa yang kau sembah setelah aku mati”, jangan sampai menyesal saat kita mati bukan anak-anak kita yang membacakan Tahlil untuk kita, bukan anak kita yang ahli memegang (membaca) Al-Qur’an, akan tetapi anak kita pintar memegang alat-alat yang melalaikan (alat musik).
Tidak akan bisa kita membalas kebaikan orang tua kita kecuali Allah Subhaanahu wata’alaa
والله اعلم

Kamis, 24 Maret 2016.

Jumat, 18 Maret 2016

Apa Itu Nafsu

            Ulama’ berbeda pendapat dalam menyikapi akan hakikat nafsu menjadi beberapa kesimpulan, yang garis besar sebagai berikut:
1-      Ada yang berpendapat bahwa nafsu itu adalah ruh pada hakikatnya, Ulama’ yang berpendapat demikian (berdalil) menyimpulkan dari salah satu ayat Al-Qur’an:
(ولو ترى إذ الظالمون في غمرات الموت والملائكة باسطوا أيديهم أخرجوا أنفسكم) أي أرواحكم "الأنعم - 93
2-      Dan ada yang mengatakan nafsu adalah dzat yang kesat mata yang bisa diketahui dan disadari keberadaannya, jika ditinjau dari hidupnya jasad karena adanya ruh maka ia dinamakan RUH, jika ditinjau dari segi syahwat maka ia dinamakan NAFSU, jika ditinjau dari segi ia bisa membedakan/berpikir maka disebut AKAL. Maka tiga nama yang berbeda itu sebenarnya sama, sama-sama satu dzat akan tetapi berbeda dalam sisi lain, yaitu dari segi manusia, nafsunya dan dzatnya, dan disifati berbeda-beda juga tergantung keadaannya yang berbeda.
Dan beberapa keadaan yang membedakan sifat (nama) nafsu tersebut adalah:
-          Jika nafsu tersebut tunduk dibawah perintah kita (taat kepada agama) maka dinamakan Nafsu Mutmainnah, Allah SWT berfirman: (يأيهاالنفس المطمئنّة) الفجر – 27
-          Jika tidak benar-benar taat (masih melawan hawa nafsu) maka dinamakan Nafsu Lawwamah (mencela), dinamakan demikian karena nafsu tersebut mencela tuannya ketika lalai (berbuat salah), contoh: setelah berbuat dosa hati kita (bisikan) menyesal atas apa yang kita perbuat dan mencela/menyalahkan diri kita sendiri. Allah SWT berfirman: (ولا أقسم بالنفس اللّوّامة) القيامة – 2
-          Apabila nafsu itu tunduk kepada syahwat dan bisikan-bisikan syetan, maka ia dinamakan Nafsu Ammarah, Allah SWT berfirman (hikayat dari perkataan nabi yusuf as.): (وماأبرّئ نفسي إن النفس لأمّارة بالسوء إلا مارحم ربّي غفوررّحيم) يوسف – 53
-          Apabila nafsu itu pandai memanipulasi (menyerupakan) keburukan dengan kebaikan, dan membungkus kebathilan dengan haq[1], maka nafsu tersebut dinamakan Al-Musawwalah (yang memanipulasi/menyerupai), Allah SWT berfirman (hikayat perkataan nabi ya’qub as. Kepada putranya): (قال بل سوّلت لكم أنفسكم أمرًا) يوسف – 18.




[1] Sebagaimana dalam qaidah yang ma’ruf: كلمة الحق تريد بهاالباطل

Selasa, 08 Maret 2016

macam-macam wanita

Ada seorang pria yang bersumpah tidak akan menikah sampai dia bertanya kepada 100 orang yang berpengalaman tentang bahayanya wanita, setelah dia bertanya kepada 99 orang dia keluar mencari satu orang terakhir siapapun orang yang akan dia temui, sampai dia melihat seorang pria sederhana dan kumuh, dia memberi salam dan bertanya: boleh aku bertanya suatu hal padamu?
Silahkan saja tanyakan apa yang ingin kau ketahui…
Aku merasa wanita itu tidak mudah dan memiliki sifat-sifat yang berbahaya… akhirnya aku bersumpah tidak akan menikah sampai aku meminta pendapat kepada 100 orang, bagaimana menurut mu?
Kau harus tahu wanita itu ada 3 macam:
-     Wanita yang baik untuk mu:  dia adalah gadis yang lembut yang menjaga dirinya hanya untuk mu, jika dia melihat kebaikan mu dia akan tersenyum dan bersyukur kepada allah. Jika dia melihat keburukan mu, dia akan tetap tersenyum dan berkata tidak apa-apa semua pria juga gitu.
-  Wanita yang menyengsarakan mu: dia wanita yang sering menyalahkan mu dan jarang menyenangkan mu, dia egois dia mudah marah dia ingin keingannya di turuti dan tidak mau menuruti mu.
-    Wanita yang tidak menyengsarakan mu tapi juga tidak baik untuk mu: dia adalah wanita yang jika melihat kebaikan mu berkata, ini yang membuat ku jatuh cinta, dan ketika melihat keburukan mu dia berkata, kamu tidak seperti pria itu, dulu pria itu seperti ini, andai saja pria itu dia pasti sudah begini (dia akan membandingkan mu dengan pria lain yang dia kenal)



(kitab Nawadir, hal. 176)

Sifat Buruk yang Baik jika dimiliki Wanita

            Ternyata ada beberapa sifat buruk lelaki yang menjadi baik jika sifat-sifat itu dimiliki oleh seorang wanita:
-          Pelit, salah satu sifat yang buruk apabila dimiliki seorang lelaki akan tetapi bisa menjadi sifat yang baik jika dimiliki seorang wanita, dengan tanda kutip yang di maksud adalah jika wanita itu pelit maka dia akan menjaga hartanya dan harta suaminya (tidak suka belanja yang tidak perlu).
-          Cuek, yang di maksud disini adalah seorang wanita yang tidak berbicara dengan nada yang rendah, halus, lembut (merayu)
-          Penakut, wanita yang penakut yang di maksud adalah tidak mau bergaul dan tidak suka keluar rumah, dan menjaga dirinya dari tempat-tempat yang menghawatirkan, sehingga dia menjaga dirinya hanya untuk suaminya.


(perkataan sayyidina ali bin abi thalib – kitab: ihya’, juz 2, hal. 35)

Makna Gerhana dalam Islam

 Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya adalah malam, siang, matahari dan bulan, Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kalian hanya menyembahnya” (Fushshilat: 37)
Gerhana yang terjadi adalah tanda kekuasaan Allah SWT dan tanda untuk menunjukkan kepada semuanya bahwa tidak ada yang sempurna kecuali sang Pencipta.
Secara tidak langsung Allah SWT juga ingin menunjukkan bahwa Bulan, Matahari yang disembah sebagain orang tidaklah sempurna, keduanya tidak terus terang bersinar.
            Allah SWT memberi kita akal untuk berpikir dan agar bias memilah antara kebenaraan dan hal yang salah, terutama dalam hal kepada siapa kita menyembah, jangan pernah kita dahulukan ego cobalah jernihkan pikiran sebelum mengambil langkah besar dalam hidup kita, sebagai mana yang dinyatakan Sayyidina Umar bin Khattab: ketika melihat bebatuan dan roti beliau tiba-tiba tertawa, sahabat yang melihatnya pun bertanya akan prihal itu, beliau menjawab “aku bingung akan apa yang aku lakukan dahulu, aku membuat patung dari batu yang aku pahat sendiri dari kedua tanganku lalu aku menyembahnya, bahkan terkadang aku membuatnya dari bahan roti (gandum), maka apakah tidak berpikir hal itu sungguh tidak masuk akal”.
Apa yang sebenarnya kita sembah, yang kita percayai dapat melindungi kita, yang dapat memberi rezeqi dan musibah? Apakah Patung dari batu yang di pahat oleh tangan manusia itu sendiri! Ataukah dewa-dewa dengan wujud yang sebagiannya terlihat dengan bentuk yang aneh dan tidak rasio! hewan-hewan seperti kera atau sapi yang mereka sendiri kita tahu tak memiliki akal! Ataupun sesame manusia yang dianggap anak tuhan atau tuhan yang menjelma dan seterusnya dengan paradigm yang terlalu dipaksa agar rasional dan dapat diterima akal?!
            Tidakkah kita hargai anugrah akal dan kecerdasan yang kita miliki ini, mulailah berpikir dengan jernih, tenangkan pikiran dan hati kita jangan ego dengan hal-hal yang menentukan arah kehidupan kita. Sadar dan ingat penyesalan pasti akan datang di akhir, haruskah kita sadar setelah semuanya terlambat dan menyesal.
            Kita berdoa agar mendapat perlindungan Allah SWT dan mendapat hidayah agar hati kita terbuka untuk melihat kebenaran, dan mudah-mudahan langkah kaki kita telah benar untuk mendapatkan kebahagiaan yang bukan hanya didunia fana ini tapi mendapat nimat dan dapat bahagia di akhirat yang kekal kelak.
Dari sahabat Mughirah bin Syu’bah, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
{إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ, وَلاَ لَحِيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْ عُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ}

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah salah satu tanda kebesaran Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.” (HR. Al-Bukhari no. 1043, dan Muslim no. 915)

Kamis, 03 Maret 2016

Hanya Islam yang mampu menjawab

Sebuah kisah nyata yang penuh hikmah yang mengajarkan kita tentang kebenaran islam dan pentingnya bagi pemuda muslim untuk menuntuk ilmu dan lain-lain.
Kisah ini memiliki beberapa versi bisa jadi karena hal tersebut memang pernah terjadi beberapa kali, di antaranya ada riwayat yang mengatakan bahwa kisah ini terjadi pada zaman Sy. Ali bin Abi thalib saat ada yahudi bertanya pada beliau, ada juga riwayat yang mengatakan terjadinya pada zaman Thabi’in, bahkan ada cerita yang banyak menyebar bahwasannya itu terjadi di negara Paman Sam antara seorang pemuda pelajar asal arab yang ditanya oleh seoang pendeta.
Saya akan menceritakan kembali dengan versi yang terdekat dimana ada seorang muslim yang berdebat dengan pemuka orang non-muslim untuk menunjukkan mana diantara kedua yang benan dan otentik, di mulai dari pendeta yang memberi beberapa soal:
1. Sebutkan satu yang tiada duanya
2. Dua yang tiada tiganya
3. Tiga yang tiada empatnya
4. Empat yang tiada limanya
5. Lima yang tiada enamnya
6. Enam yang tiada tujuhnya
7. Tujuh yang tiada delapannya
8. Delapan yang tiada sembilannya
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya
10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh
11. Sebelas yang tiada dua belasnya
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun dia tidak menyukainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”
Dengan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT dan kebenaran islam dia mulai menjawab pertanyaan tersebut satu persatu:
1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman:
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’: 12).
3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4. Empat yang tiada limanya adalah Kitab-kitab yang Allah SWT turunkan kepada Rasulnya Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.
5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis Allah SWT berfirman: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang”. (Al-Mulk: 3).
8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman,”Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka.” (Al-Haqqah: 17).
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan *
10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat”. (Al-An’am: 160).
11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Nabi Yusuf
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah: “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air” (Al-Baqarah: 60).
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh, Allah SWT berfirman: “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing”. (At-Takwir: 18).
15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,” tak ada cercaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai” (Luqman: 19).
18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta  Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).
20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar” (Yusuf: 28).
22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari, maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.
Pendeta dan orang-orang yahudi yang berada disitu merasa takjub mendengar jawaban muslim tersebut.
Kemudian giliran orang muslim itu yang bertanya: “APAKAH KUNCI SURGA ITU?” mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah, ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun orang-orang yang hadir disitu berharap agar pendeta menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.
Mereka berkata “anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!
Pendeta tersebut berkata: “Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah
Mereka menjawab: “Kami ingin mengetahuinya
Pendeta itu menjawab “ASHADU AN LA ILAHA ILLALLAH WA ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH

Pendeta dan orang-orang non-muslim yang hadir disitu memeluk agama islam, itulah kebenaran yang ada, yang bagi siapapun masih bisa menguji siapa dan mana yang benar.

Rabu, 02 Maret 2016

Jalani hidup selalu ceria

Jalani hidup selalu ceria

Rasulullah merasa heran dengan orang muslim, mereka hidup selalu ceria penuh kebaikan karena 2 hal: Sabar dan Syukur.
Ketika mendapat nikmat mereka bersyukur maka Allah menambah nikmatnya dan menjadikan nikmat tersebut sebuah kebaikan (pahala), dan ketika Allah memberi cobaan (musibah) mereka bersabar, maka allah membalasnya dengan nikmat dikemudian hari dan menjadikannya sebagai penghapus dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya.
Bukan kah hal tersebut luar biasa jika kita pikirkan, orang muslim menjalani hidup selalu ceria dan penuh kebaikan dengan melakukan 2 hal tersebut, bahkan ketika mereka mendapat cobaan (musibah) mereka bersabar dan dapat ceria karena mereka sadar cobaan itu adalah penghapus dosa baginya, cobaan tersebut juga pasti karena dia berbuat salah, dan sadarlah bahwa semua yang kita miliki sebenarnya milik Allah jadi ketika ada musibah yang menimpa dia tidak bimbang karena apa yang hilang memang bukan miliknya.
لايكلف الله نفسا إلا وسعها  (سورة البقرة – الاية 286)  
Allah telah menyatakan dalam ayat tersebut, bahwa Allah SWT tidak menguji hambanya diluar batas kemampuannya, percayalah apa yang kau hadapi kau bisa mengatasinya, Allah percaya kalau kita salah satu hambanya yang kuat, jagalah kepercayaan tersebut, jangan mudah putus asa dan kalah dengan bsisikan setan yang ingin melemahkan kita yang sudah allah beri kepercayaan bahwa kita kuat.
            Rasulullah SAW bersabda: إن اشد البلاء الأنبياء ثم الذين يلونهم والذين يلونهم
paling berat cobaan (yang allah beri) adalah kepada nabi, kemudian kepada mereka yang mengikuti para nabi dan seterusnya”.
Pernah kita berpikiri akan hal tersebut, sadarkah kita bahwa cobaan terberat dialami oleh para nabi kemudian para sahabat kemudian yang mengikuti para sahabat dan seterusnya. Kenapa demikian, hal tersebut karena cobaan sebenarnya adalah bahwa allah mencintai kita (bukan kah kita jika mencintai seseorang kita juga akan mengujinya agar kita tahu apakah cintanya tulus dan benar-benar, bahkan kita akan mengujinya tidak hanya sekali, tapi kita akan mengujinya kembali dengan hal yang lebih berat), dan karena cobaan dari Allah apabila kita sabar, hal tersebut dapat menghapus dosa kita dan meningkatkan derajat kita di akhirat kelak.

            Setiap yang Allah takdirkan pasti ada hikmahnya, yakinlah Rahasia Tuhan itu ada dan lebih indah dari apa yang kita inginkan.

Selasa, 01 Maret 2016

Jangan Merasa Lebih Baik Dari Orang Lain

عن معاذ بن جبل قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من عير أخاه بذنب لم يمت حتى يعمله
Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mencela saudaranya (muslim) karena suatu dosa yang diperbuatnya, maka dia tidak akan meti sampai dia melakukan dosa tersebut.
Para ulama’ berpendapat: dia diberi balasan dengan dihilangkan darinya taufiq Allah SWT hingga dia melakukan dosa yang dia cela pada saudaranya (muslim), hal tersebut karena dia merasa sombong dan hatinya merasa dia akan selamat (tidak mungkin melakukan dosa tersebut).
وقال صلى الله عليه وسلم: لا تظهر الشماتة لأخيك فيرحمه الله ويبتليك
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda: jangan kau senang atas kesususahan saudaramu (atau merasa lebih baik darinya) sehingga allah memberinya rahmat (ni’mat) dan memberi mu cobaan (kesusahan).
وقال الإمام حسن البصري: عيرت اخا في الله بذنب فيبتليني الله بذلك الذنب بعد اربعين سنة
Imam Hasan Bashri berkata: aku pernah mencela saudaraku semuslim karena dosa yang dia perbuat, kemudian allah memberiku cobaan dengan dosa tersebut setelah 40 tahun.
            Pesan singkat yang mengajarkan kita bagaimana kita bersikap kepada oranglain, setiap orang tidak akan lepas dari kesalahan begitu juga dengan kita, maka tidak pantas kita mencelanya atau kita merasa lebih baik darinya karena kita pun pasti pernah salah, terlebih apabila kita sampai mengadu atau menyebarkan kesalahan orang lain, jika memang kita melihat sesuatu yang salah maka kita memiliki kewajiban menegornya atau memberitahunya dengan kata-kata yang santun.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لايؤمن احدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه
“seseorang tidak dikatakan mukmin sampai dia memperlakukan saudarnya (dalam segala hal) dengan hal-hal yang dia sukai (yang dia senang apabila oranglain memperlakukannya dengan hal tersebut)”.

Sebuah pedoman hidup yang sangat luar biasa, apabila kita mengamalkan maksud hadits tersebut bersama-sama maka pasti banyak masalah-masalah yang akan terselaikan.