Ulama’ berbeda
pendapat dalam menyikapi akan hakikat nafsu menjadi beberapa kesimpulan, yang
garis besar sebagai berikut:
1-
Ada yang berpendapat bahwa nafsu itu adalah ruh pada hakikatnya,
Ulama’ yang berpendapat demikian (berdalil) menyimpulkan dari salah satu ayat
Al-Qur’an:
(ولو
ترى إذ الظالمون في غمرات الموت والملائكة باسطوا أيديهم أخرجوا أنفسكم) أي
أرواحكم "الأنعم - 93
2-
Dan ada yang
mengatakan nafsu adalah dzat yang kesat mata yang bisa diketahui dan disadari
keberadaannya, jika ditinjau dari hidupnya jasad karena adanya ruh maka ia
dinamakan RUH, jika ditinjau dari segi syahwat maka ia dinamakan NAFSU, jika
ditinjau dari segi ia bisa membedakan/berpikir maka disebut AKAL. Maka tiga
nama yang berbeda itu sebenarnya sama, sama-sama satu dzat akan tetapi berbeda
dalam sisi lain, yaitu dari segi manusia, nafsunya dan dzatnya, dan disifati
berbeda-beda juga tergantung keadaannya yang berbeda.
Dan beberapa keadaan yang membedakan sifat (nama) nafsu tersebut
adalah:
-
Jika nafsu
tersebut tunduk dibawah perintah kita (taat kepada agama) maka dinamakan Nafsu
Mutmainnah, Allah SWT berfirman: (يأيهاالنفس المطمئنّة)
الفجر – 27
-
Jika tidak
benar-benar taat (masih melawan hawa nafsu) maka dinamakan Nafsu Lawwamah
(mencela), dinamakan demikian karena nafsu tersebut mencela tuannya
ketika lalai (berbuat salah), contoh: setelah berbuat dosa hati kita (bisikan)
menyesal atas apa yang kita perbuat dan mencela/menyalahkan diri kita sendiri. Allah
SWT berfirman: (ولا
أقسم بالنفس اللّوّامة) القيامة – 2
-
Apabila nafsu
itu tunduk kepada syahwat dan bisikan-bisikan syetan, maka ia dinamakan Nafsu
Ammarah, Allah SWT berfirman (hikayat dari perkataan nabi yusuf as.): (وماأبرّئ نفسي إن النفس لأمّارة بالسوء إلا مارحم ربّي غفوررّحيم)
يوسف – 53
-
Apabila nafsu
itu pandai memanipulasi (menyerupakan) keburukan dengan kebaikan, dan membungkus
kebathilan dengan haq[1],
maka nafsu tersebut dinamakan Al-Musawwalah (yang
memanipulasi/menyerupai), Allah SWT berfirman (hikayat perkataan nabi ya’qub
as. Kepada putranya): (قال
بل سوّلت لكم أنفسكم أمرًا) يوسف – 18.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar