Kamis, 24 Maret 2016

Nasehat Habib Taufiq Assegaf (ibu)

Sekapur sirih Habib Taufiq bin Abdul Qadir As-Segaf di hari terakhir ibunda tercinta beliau Al-Maghfurullah Hubabah Ruqayyah binti Habib Ja’far bin Syaikhon As-Segaf.
Jangan pernah sia-siakan kesempatan selagi orangtua anda masih hidup, kami sudah merasakan bagaimana kami ditinggal abah dan umi, sedikitpun kita tidak bisa membalas jasa mereka.
Suatu saat pernah ada seorang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “ya rasulullah aku menggendong ibuku ke ka’bah untuk Thowaf, Sa’i dan semuanya, apakah aku sudah bisa dikatakan cukup berbakti (sudah membalas jasa) kepada orangtuaku?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “apa yang telah kamu lakukan belum sebanding dengan 1 tarikan nafas ibumu saat melahirkan.
                Tidak ada yang pernah melebihi kasih sayang orangtua, siapa yang membersihkan ketika kita buang kotoran dulu, saat kita buang air kecil di malam hari mereka rela bangun mengantarkan dan membersihkan kita, disaat sakit mereka sabar merawat kita, sekarang jika kita sakit gigi pertama yang akan kita datangi adalah orangtua melapor kepadanya, tak punya kita mengadu keada orangtua, tapi kita tak pernah tahu mereka susah payah bahkan sampai berhutang, kita tidak tahu akan hal itu karen yang kita lihat mereka masih saja bisa tersenyum ketika melihat kita, walau sebenarnya di otak mereka banyak pikiran dan masalah.
                Tahukah anda pahala mencium Hajar Aswad tidak sebanding dengan anda mencium tangan kedua orangtua anda dengan Ta’dzim
Berapa banyak orang yang mengaku Da’i namun menyia-nyiakan orangtuanya...Naudzubillah
Meskipun anda Umroh dan Haji 1000x namun anda tidak berbakti kepada kedua orangtua, semua itu percuma.
                Beliau Al-Habib Taufiq menceritakan sedikit tentang ibundanya, beliau mengatakan terpaksa mengatakannya untuk saudara-saudara beliau, supaya beliau dan saudaranya bisa meniru pendidikan ibunda mereka dan mungkin dapat bermanfaat bagi kita semua:
-          Beliau mendidik langsung anak-anaknya Al-Qur’an mulai Alif sampai selesai, tanpa dititipkan di TPQ (maaf), kalau sekarang seorang anak dititipkan di TPQ atau memanggil seseorang kerumah agar dapat mengajari anaknya seakan tidak ada ittisar dan lepas tanggung jawab, dan intinya anak yang mengaji seperti itu biasanya menyebabkan anak tidak menghargai orangtua karena bukan orangtua yang mengajarkan namun orang lain.
-          Saya masih ingat ketika dulu ibunda kami  tidak pernah membiarkan anak-anaknya keluyuran diwaktu maghrib, dan mengharuskan kami berada dirumah sebelum maghrib, beliau berkata “Ayam itu kalau sudah sore pulang masa anak umi kalah sama ayam”.
-          Beliau selalu mendidik anaknya diwaktu antara maghrib dan isya’ dengan membaca rotib, yasin, tabarok mulai kecil sampai kita hafal.
-          Beliau sendiri tidak pernah meninggalkan bacaan Al-Qur’an bahkan sampai memakai kaca mata dan kaca pembesar sampai akhir wafat.
-          Saat saya dipuji seseorang beliau selalu mendudukkan saya dan marah ”Umi tidak senang kamu dipuji”, beliau mengajarkan kita selalu ikhlas, bahkan beliau pernah mengajak saya keliling, dan jika ada yang menjual foto-foto beliau dan Al-Habib Ja’far, beliau tidak suka, marah dan berdo’a “semoga  melarat yang menjual foto-foto beliau dan keluarganya”, makanya sekarang tidak ada yang berjualan foto Al-Habib Ja’far.
-          Beliau tidak pernah meninggalkan Al-Qur’an dan Dalilul Khairot.

Yang terakhir didiklah anak-anak anda agar menjadi anak yang shaleh jangan sampai anda meninggal mereka bangga mendapat warisan, selalu nasehati anak sebagaimana Nabi Ya’qub dan Nabi Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya “Bagaiman setelah aku mati, Tuhan siapa yang kau sembah setelah aku mati”, jangan sampai menyesal saat kita mati bukan anak-anak kita yang membacakan Tahlil untuk kita, bukan anak kita yang ahli memegang (membaca) Al-Qur’an, akan tetapi anak kita pintar memegang alat-alat yang melalaikan (alat musik).
Tidak akan bisa kita membalas kebaikan orang tua kita kecuali Allah Subhaanahu wata’alaa
والله اعلم

Kamis, 24 Maret 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar