Sekapur sirih
Habib Taufiq bin Abdul Qadir As-Segaf di hari terakhir ibunda tercinta beliau
Al-Maghfurullah Hubabah Ruqayyah binti Habib Ja’far bin Syaikhon As-Segaf.
Jangan pernah
sia-siakan kesempatan selagi orangtua anda masih hidup, kami sudah merasakan
bagaimana kami ditinggal abah dan umi, sedikitpun kita tidak bisa membalas jasa
mereka.
Suatu saat
pernah ada seorang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“ya rasulullah aku menggendong ibuku ke ka’bah untuk Thowaf, Sa’i
dan semuanya, apakah aku sudah bisa dikatakan cukup berbakti (sudah membalas
jasa) kepada orangtuaku?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam: “apa yang telah kamu lakukan belum sebanding dengan 1 tarikan
nafas ibumu saat melahirkan.
Tidak
ada yang pernah melebihi kasih sayang orangtua, siapa yang membersihkan ketika
kita buang kotoran dulu, saat kita buang air kecil di malam hari mereka rela
bangun mengantarkan dan membersihkan kita, disaat sakit mereka sabar merawat
kita, sekarang jika kita sakit gigi pertama yang akan kita datangi adalah
orangtua melapor kepadanya, tak punya kita mengadu keada orangtua, tapi kita
tak pernah tahu mereka susah payah bahkan sampai berhutang, kita tidak tahu
akan hal itu karen yang kita lihat mereka masih saja bisa tersenyum ketika
melihat kita, walau sebenarnya di otak mereka banyak pikiran dan masalah.
Tahukah
anda pahala mencium Hajar Aswad tidak sebanding dengan anda mencium
tangan kedua orangtua anda dengan Ta’dzim
Berapa banyak orang yang mengaku Da’i
namun menyia-nyiakan orangtuanya...Naudzubillah
Meskipun anda Umroh dan Haji
1000x namun anda tidak berbakti kepada kedua orangtua, semua itu percuma.
Beliau
Al-Habib Taufiq menceritakan sedikit tentang ibundanya, beliau mengatakan
terpaksa mengatakannya untuk saudara-saudara beliau, supaya beliau dan
saudaranya bisa meniru pendidikan ibunda mereka dan mungkin dapat bermanfaat
bagi kita semua:
-
Beliau mendidik langsung
anak-anaknya Al-Qur’an mulai Alif sampai selesai, tanpa dititipkan di
TPQ (maaf), kalau sekarang seorang anak dititipkan di TPQ atau memanggil
seseorang kerumah agar dapat mengajari anaknya seakan tidak ada ittisar
dan lepas tanggung jawab, dan intinya anak yang mengaji seperti itu biasanya
menyebabkan anak tidak menghargai orangtua karena bukan orangtua yang mengajarkan
namun orang lain.
-
Saya masih ingat ketika
dulu ibunda kami tidak pernah membiarkan
anak-anaknya keluyuran diwaktu maghrib, dan mengharuskan kami berada dirumah
sebelum maghrib, beliau berkata “Ayam itu kalau sudah sore pulang masa anak
umi kalah sama ayam”.
-
Beliau selalu mendidik
anaknya diwaktu antara maghrib dan isya’ dengan membaca rotib, yasin, tabarok
mulai kecil sampai kita hafal.
-
Beliau sendiri tidak pernah
meninggalkan bacaan Al-Qur’an bahkan sampai memakai kaca mata dan kaca pembesar
sampai akhir wafat.
-
Saat saya dipuji seseorang
beliau selalu mendudukkan saya dan marah ”Umi tidak senang kamu dipuji”,
beliau mengajarkan kita selalu ikhlas, bahkan beliau pernah mengajak saya
keliling, dan jika ada yang menjual foto-foto beliau dan Al-Habib Ja’far,
beliau tidak suka, marah dan berdo’a “semoga
melarat yang menjual foto-foto beliau dan keluarganya”, makanya
sekarang tidak ada yang berjualan foto Al-Habib Ja’far.
-
Beliau tidak pernah
meninggalkan Al-Qur’an dan Dalilul Khairot.
Yang terakhir
didiklah anak-anak anda agar menjadi anak yang shaleh jangan sampai anda
meninggal mereka bangga mendapat warisan, selalu nasehati anak sebagaimana Nabi
Ya’qub dan Nabi Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya “Bagaiman setelah aku
mati, Tuhan siapa yang kau sembah setelah aku mati”, jangan sampai menyesal
saat kita mati bukan anak-anak kita yang membacakan Tahlil untuk kita,
bukan anak kita yang ahli memegang (membaca) Al-Qur’an, akan tetapi anak kita
pintar memegang alat-alat yang melalaikan (alat musik).
Tidak akan
bisa kita membalas kebaikan orang tua kita kecuali Allah Subhaanahu
wata’alaa
والله اعلم
Kamis, 24 Maret 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar