Allah Subhanahu wa ta’ala
berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا
لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ
إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
”Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya adalah
malam, siang, matahari dan bulan, Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari
maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kalian hanya
menyembahnya” (Fushshilat: 37)
Gerhana yang terjadi adalah tanda kekuasaan
Allah SWT dan tanda untuk menunjukkan kepada semuanya bahwa tidak ada yang
sempurna kecuali sang Pencipta.
Secara tidak langsung Allah SWT juga ingin
menunjukkan bahwa Bulan, Matahari yang disembah sebagain orang tidaklah
sempurna, keduanya tidak terus terang bersinar.
Allah
SWT memberi kita akal untuk berpikir dan agar bias memilah antara kebenaraan
dan hal yang salah, terutama dalam hal kepada siapa kita menyembah, jangan
pernah kita dahulukan ego cobalah jernihkan pikiran sebelum mengambil langkah
besar dalam hidup kita, sebagai mana yang dinyatakan Sayyidina Umar bin
Khattab: ketika melihat bebatuan dan roti beliau tiba-tiba tertawa, sahabat
yang melihatnya pun bertanya akan prihal itu, beliau menjawab “aku bingung
akan apa yang aku lakukan dahulu, aku membuat patung dari batu yang aku pahat
sendiri dari kedua tanganku lalu aku menyembahnya, bahkan terkadang aku
membuatnya dari bahan roti (gandum), maka apakah tidak berpikir hal itu sungguh
tidak masuk akal”.
Apa yang sebenarnya kita sembah, yang kita
percayai dapat melindungi kita, yang dapat memberi rezeqi dan musibah? Apakah Patung
dari batu yang di pahat oleh tangan manusia itu sendiri! Ataukah dewa-dewa
dengan wujud yang sebagiannya terlihat dengan bentuk yang aneh dan tidak rasio!
hewan-hewan seperti kera atau sapi yang mereka sendiri kita tahu tak memiliki
akal! Ataupun sesame manusia yang dianggap anak tuhan atau tuhan yang menjelma
dan seterusnya dengan paradigm yang terlalu dipaksa agar rasional dan dapat diterima
akal?!
Tidakkah
kita hargai anugrah akal dan kecerdasan yang kita miliki ini, mulailah berpikir
dengan jernih, tenangkan pikiran dan hati kita jangan ego dengan hal-hal yang
menentukan arah kehidupan kita. Sadar dan ingat penyesalan pasti akan datang di
akhir, haruskah kita sadar setelah semuanya terlambat dan menyesal.
Kita
berdoa agar mendapat perlindungan Allah SWT dan mendapat hidayah agar hati kita
terbuka untuk melihat kebenaran, dan mudah-mudahan langkah kaki kita telah
benar untuk mendapatkan kebahagiaan yang bukan hanya didunia fana ini tapi
mendapat nimat dan dapat bahagia di akhirat yang kekal kelak.
Dari sahabat Mughirah bin Syu’bah, Nabi Shallallahu
’alaihi wa sallam bersabda:
{إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ
لِمَوْتِ أَحَدٍ, وَلاَ لَحِيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْ عُوا اللهَ وَصَلُّوا
حَتَّى تَنْكَشِفَ}
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah
salah satu tanda kebesaran Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan
karena kematian seseorang atau karena kelahiran seseorang. Apabila kalian
melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah
hingga tersingkap kembali.” (HR. Al-Bukhari no. 1043, dan Muslim no. 915)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar